Selasa, 01 Oktober 2013

Taring Padi

About

Jan 18, 2010   //   by Taring Padi   //    //  14 Comments
Taring Padi (TP), mengumumkan kehadirannya di kancah Politik-Budaya Yogyakarta. Taring Padi mendeklarasikan Mukadimahnya dan mengumumkan “Lima Iblis Budaya” di kantor LBH Yogyakarta pada 21 Desember 1998, sebagai sebuah organisasi budaya progresif, Taring Padi menetapkan bahwa tugas mereka adalah membangun kembali “Budaya Kerakyatan”, dan mengadvokasi siasat front bersatu dalam rangka mendorong perubahan demokratik yang berwatak popular di Indonesia. Mukadimah Taring Padi ditandatangani sejumlah aktivis budaya, mahasiswa, pekerja seni, dan pelukis otodidak.
Taring Padi merumuskan posisi sebagai aktivis budaya, sebuah posisi kelas yang menempatkan diri pada strata menengah masyarakat. Peran aktivis budaya Taring Padi ada dua. Tingkat Pertama, Taring padi melancarkan agitasi terhadap “wacana elit”, dengan mempromosikan seni kerakyatan, sementara di tingkat kedua, mereka mengorganisasi asosiasi-asosiasi kebudayaan dan kerakyatan yang berwatak progresif, “di tengah-tengah rakyat”.
Mukadimah dan “Lima Iblis Budaya” Taring Padi, menentang keras paham “Seni Untuk Seni”, yang dipertahankan, baik melalui lembaga-lembaga budaya negara maupun swasta selama kurun waktu Orde Baru.  Kebudayaan Indonesia, menurut naskah “Lima Iblis Budaya”, telah dibelenggu demi keuntungan modal, sehingga rentan terhadap masuknya kekuatan-kekuatan neo-imperealisme dan kekuatan pasar Internasional. Pemahaman ‘demokratisasi” Taring Padi sebagai kebebasan untuk menyakini prinsip ideologi masing-masing, dan saling menghormati, yang mencerminkan watak warisan budaya Indonesia.
Rumah Taring Padi pada tahun 1998, merupakan lokasi kolektif yang memiliki nuansa tempat asal kelahiran mereka. Rumah Taring Padi, yang dahulu kampus ASRI dan berubah Institut Seni Indonesia (ISI) terletak di Gampingan, sekarang menjadi gedung Jogja National Museum (JNM). Sejak Taring Padi menduduki gedung itu, menjadi kubu pertahanan bagi kegiatan-kegiatan revoluisioner, ruang-ruang dan bangsal perkuliahan yang banyak jumlahnya itu dipakai Taring Padi untuk memfasilitasi acara dan pameran, dan “dipinjamkan” kepada kelompok progresif lain untuk mengadakan diskusi, konser dan performance. Dan Taring Padi juga mengundang partisipasi masyarakat setempat. Para anggota Taring Padi memberi pelajaran menggambar kepada anak-anak kampung, dan menyelenggarakan malam kebudayaan “Bulan Purnama” dengan mengundang masyarakat untuk menampilkan musik dan puisi, juga memfasilitasi sejumlah kegiatan budaya masyarakat, acara pernikahan, dan musik keroncong. Beberapa anggota Taring Padi ikut grup dangdut “Soekar Madjoe” dan Dendang Kampungan (DK), yang menciptakan lagu-lagu yang relevan dengan keadaan masyarakat, dan dimainkan dalam berbagai acara di kampus-kampus dan di tengah masyarakat Yogyakarta atau di kota-kota sekitarnya.
Taring Padi memberlakukan sistem keanggotaan terbuka yang prasyaratnya adalah komitmen terhadap garis kerakyatan. Para pekerja seni Taring Padi datang dari berbagai latar belakang pendidikan. Sebagian anggota tak pernah mengenyam pendidikan tinggi, yang lain drop out, atau sedang berkuliah di berbagai bidang. Anggota Taring Padi yang belum pernah mendapat pelatihan seni, belajar seni secara informal atau bergabung dengan kegiatan bersama, termasuk mengikuti diskusi yang membahas bermacam-macam topik, Taring Padi secara teratur mengadakan pertemuan untuk membahas situasi nasional dan internasional.
Pendekatan kolektif Taring Padi terhadap produksi seni merupakan bagian dari usaha untuk menghapus gagasan borjuis tentang “seniman jenius” dan “karya seni”. Karya-karya Taring Padi tidak menonjolkan pengakuan kepada “individu” penciptanya. Kebanyakan karya Taring Padi dihasilkan secara kolektif dan dapat dikelompokan dalam empat bentuk pokok: baliho atau spanduk, poster, wayang, dan booklet popular bernama Terompet Rakyat.
Selain itu, produksi karya seni yang kolektif tidak menghalangi produksi seni individu. Meskipun naskah “Lima Iblis Budaya” menyatakan menentang karya seni individualis, sasaran kebijakan ini adalah hubungan-hubungan produksi kapitalis yang memperantarai produksi kreatif perorangan, karya seni, dan pasar. Taring Padi berpendapat bahwa konsep kebutuhan perorangan harus dipertimbangkan dalam konteks demokratis, dimana seorang individu memiliki tanggung jawab kemasyarakatan.
Taring Padi menerima penghasilan ala kadarnya dari produksi kecil-kecilan dan perdagangan informal benda-benda seni, seperti lukisan, poster, gambar, komik, sticker, kaos oblong, emblem, pin, dan membuat sampul dan ilustrasi buku-buku yang memiliki kecenderungan ideologis serupa dengan ideologi mereka. Cara lain untuk menggalang dana adalah melalui sumbangan yang datang sekali waktu, uniknya kebanyakan kawan atau koneksi berjenis “wacana elit”. Perlu dicatat bahwa Taring Padi dengan tegas memilah karya seni, yang mereka buat sebagai individu, dan karya seni yang dibuat untuk maksud-maksud kolektif. Dualitas tampak dalam sikap itu, para warga, orang-perorangan, dibebaskan dengan pilihan-pilihan artistik individual mereka. Karya-karya kolektif TP diperlakukan dengan persyaratan ketat mengenai bagaimana karya-karya yang berbeda-beda boleh dipakai, disebarluaskan atau dijual untuk mengumpulkan dana kolektif. Karya-karya asli TP, seperti baliho dan wayang, sama sekali tak boleh dijual. Karya-karya tersebut diberlakukan sebagai alat kampanye dan pendidikan publik yang dapat dipakai oleh gerakan-gerakan sosial yang membutuhkannya. Karya-karya yang mudah direproduksi dijual Taring Padi. Ini meliputi karya-karya cukil berbentuk poster dan baliho, stiker, pin, kaos oblong-semuanya dipandang sebagai semacam merchandise dalam rangka pengumpulan dana.
Semasa booming pasar seni 2001-2008, sebelum krisis finansial menghantam Indonesia, Taring Padi terus menerapkan sistem penjualan yang sama atas karya-karya “asli” mereka untuk keperluan masyarakat dan kampanye. Boom pasaran seni rupa itu mengguncang art scene Yogyakarta. Para seniman di kota itu mengubah haluan artistik mereka, memperbesar skala karya dan beralih ke karya-karya dua matra di atas kanvas, supaya lebih mudah dijual. Sementara itu, Taring Padi, walaupun pasar mengincar karya-karya yang “asli”, mereka tak pernah mengubah kebijakan untuk tidak menjual baliho dan karya-karya berukuran besar. Sikap ini seakan-akan bertolak belakang dengan intuisi yang lazim. Namun, inilah sebuah sikap yang tegas, mantab dan mampu bertahan, keberlangsungan praktik seni kerakyatan yang tak kikis masa, yang telah dijalani oleh Taring Padi.
Lima Iblis Budaya, Lembaga Budaya Kerakyatan “Taring Padi” (1999)
  1. Lembaga-lembaga seni maupun budaya yang menitik-beratkan seni untuk seni, individual, oportunis yang selalu mensosialisasikan doktrin-doktrin yang sesat dengan tujuan mempertahankan status quo dan berupaya menjauhkan perkembangan seni dengan masyarakat, yang baginya masyarakat terbagi atas golongan-golongan yang dilihat dari kemampuan ekonomi/kebendaan semata (atas, menengah,bawah).
  2. Pemerintah/Penguasa melalui departemen-departemen yang mengurusi seni dan budaya, melakukan hal-hal yang menunjang status quo dan berupaya membentuk kebudayaan Indonesia yang hanya dijual keeksotisannya demi kepentingan ekonomi dan kekuasaan.
  3. Lembaga-lembaga seni yang memfungsikan lembaganya sebagi legitimator atas pekerja seni, karya seni, dan penentu arah perkembangan seni.
  4. Sistem yang merusak moral pekerja seni karena hanya berjuang untuk kepentingan individu tanpa memikirkan kepentingan rakyat, bahkan mengeksploitasi penderitaan rakyat untuk kepentingan individual.
  5. Kurangnya pemahaman serta fungsi seni dalam masyarakat sebagai akibat politik Orde Baru yang mementingkan “Ekonomi sebagai Panglima” dan Kolusi, Korupsi serta Nepotisme sebagai taktiknya.
Misi
Lembaga budaya taring padi berupaya mengembangkan seni dan budaya dengan menggali keinginan dan kebutuhan rakyat dengan mengutamakan; keterbukaan, kesejahteran sosial, kedaulatan rakyat, keadilan antar generasi, demokrasi, penghargaan atas hak asasi manusia tanpa mengesampingkan kewajiban, perspektif gender, reformasi hubungan global serta pengelolaan lingkungan hidup yang baik.
Visi
Lembaga budaya kerakyatan taring padi memainkan peran memiliki visi, sebagai berikut :
Pertama, sebagai wadah bersama bagi pekerja seni dalam mendorong semua pihak untuk mengembangkan seni dan budaya lokal dengan orientasi kerakyatan yang digali dari kebutuhan rakyat serta pertumbuhan pribadi sosial demokratis kerakyatan.
Kedua, sebagai wadah bersama bagi pekerja seni untuk memainkan peran yang optimal dalam mendorong perubahan dengan, antara lain :
  1. Mengembangkan potensi seni yang ada untuk perubahan dengan menyajikan solusi atas persoalan, kebutuhan dan keinginan rakyat pada karya yang dihasilkan.
  2. Mendekonstruksi simbol-simbol hegemoni Negara yang melemahkan kemampuan rakyat dalam mengkontrol kebijakan pengembangan seni dan budaya.
  3. Mendesakkan perubahan atas pemahaman seni, untuk bisa membuka terselesaikannya keinginan, kebutuhan serta cita-cita rakyat atas segala hal.
Ketiga, sebagai wadah bersama bagi para pekerja seni dalam komunikasi, tukar menukar pengalaman dan informasi serta memperkuat jaringan kerja sama sesama lembaga yang sesuai dengan visi, misi dan tujuan lembaga budaya kerakyatan taring padi.
  
DAFTAR PUSTAKA
  • Arbukle, Heidi, 2010, “Taring Padi: Praktik Budaya Radikal di Indonesia”, Penerbit LKiS, Yogyakarta.
  • Arsip dan Dokumentasi 1998 – 2011, Taring Padi, Yogyakarta.

Events

Pameran/ Exhibition "Hutan di Titik Nol" - Climate Change Festival
2- 12 October 2013, Sangkring Art Space, Nitiprayan, Yogyakarta
Pembukaan / Opening 2 October with Dendang Kampungan
Taring Padi Workshops & Film Screenings
Untuk lebih tahu tentang workshop dan pemutaran film reguler di Taring Padi lihat di facebook page Taring Padi (linknya di bawa – “Follow Us”)
For regular updates on Taring Padi workshops and monthly film screenings check Taring Padi’s facebook page (link at bottom of the page)

Enter your email address to subscribe to this website and receive notifications of new posts by email.


Taring Padi

DPC GMNI PALANGKARAYA (Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang): kehidupan kolektif dan kebersamaan di dalam berorg...

DPC GMNI PALANGKARAYA (Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang): kehidupan kolektif dan kebersamaan di dalam berorg...: Kehidupan Kolektif dan Kebersamaan di dalam Berorganisasi Sebelum mengulas lebih jauh lagi mengenai tema yang sedang ingin diangkat se...

Senin, 30 September 2013

[FOTO] Terkuak: Misteri Luka Jenazah 7 Pahlawan Revolusi!


[FOTO] Terkuak: Misteri Luka Jenazah 7 Pahlawan Revolusi!

wikileaks

Misteri dan Kontroversi Luka-Luka Pada Jenazah 7 Pahlawan Revolusi

“…only in four months, five times as many people died in Indonesia as in Vietnam in twelve years…”
(Bertrand Russell, 1966)
suharto ibu tien patung 7 jenderal lubang buaya

!!! WARNING GRAPHIC CONTENT !!!
!!! PERHATIAN GAMBAR MEMILUKAN !!!

content 17 yoMeski sudah puluhan tahun lamanya, namun peristiwa tragis pemberontakan partai G 30 S / PKI 1965 yang diberitakan dan diisyukan akan mengudeta negeri ini tak akan pernah terlupakan. Peristiwa tersebut masih banyak menimbulkan kenangan pahit dan banyak pertanyaan daripada jawabannya.
Untuk mengenang jasa dan pengorbanan tak ternilai dari ketujuh Pahlawan Revolusi dan juga untuk memperingati serta mengenang peristiwa tersebut agar tak pernah ada lagi, maka kami akan menguak sedikit dari banyaknya tandatanya-tandatanya besar yang masih tersimpan di saku tiap rakyat Indonesia yang tercinta ini yang belum terjawab.
Mungkin ada benarnya kata pepatah, jika kita berada diwilayah orang yang sangat-sangat berkuasa dimana informasi apapun sangat-sangat terbatas dan penuh rekayasa, maka terkadang kebenaran akan terungkap belakangan karena kebenaran takkan pernah hilang, walau terlihat “seperti hilang” oleh waktu.
A. Kronologi Pengangkatan Jenazah Dari Dalam Sumur
Suharto, sebagai komandan Abri saat memimpin pasukan untuk memerangi G-30/S-PKI
Suharto, sebagai komandan Abri saat memimpin pasukan untuk memerangi G-30/S-PKI
Mengangkat jenazah tujuh pahlawan revolusi di Lubang Buaya bukan perkara gampang. Kondisi sumur yang dalam dan mayat yang mulai membusuk, membuat evakuasi sulit dilakukan.
Tapi para prajurit Kompi Intai Amfibi Korps Komando Angkatan Laut (KIPAM KKO-AL), tak mau menyerah.
Sebenarnya jenazah sudah ditemukan sejak sehari sebelumnya, yaitu pada tanggal 3 Oktober 1965, atas bantuan polisi Sukitman dan masyarakat sekitar.
Peleton I RPKAD yang dipimpin Letnan Sintong Panjaitan segera melakukan penggalian.
Tapi mereka tak mampu mengangkat jenazah karena bau yang menyengat.
Jenderal Soeharto pun memerintahkan kepada pasukan evakuasi bahwa penggalian dihentikan pada malam hari.
g30s pki gestapu 1965 01
Pasukan KKO bersiap masuk ke sumur dengan menggunakan peralatan selam dan masker
Maka penggalian pun ditunda dan penggalian akan kembali dilanjutkan keesokan harinya.
Dalam buku Sintong Panjaitan, perjalanan seorang prajurit para komando yang ditulis wartawan senior Hendro Subroto, dilukiskan peristiwa seputar pengangkatan jenazah.
Kala itu Sintong berdiskusi dengan Kopral Anang, anggota RPKAD yang dilatih oleh Pasukan Katak TNI AL.
Anang mengatakan peralatan selam milik RPKAD ada di Cilacap, hanya KKO yang punya peralatan selam di Jakarta.
Maka singkat cerita, KKO meminjamkan peralatan selam tersebut untuk operasi pengangkatan jenazah dari dalam lubang sumur di daerah lubang Buaya tersebut.
Tanggal 4 Oktober, Tim KKO dipimpin oleh Komandan KIPAM KKO-AL Kapten Winanto melakukan evakuasi jenazah pahlawan revolusi. Satu persatu pasukan KKO turun ke dalam lubang yang sempit itu.
Pukul 12.05 WIB, anggota RPKAD Kopral Anang turun lebih dulu ke Lubang Buaya. Dia mengenakan masker dan tabung oksigen. Anang mengikatkan tali pada salah satu jenazah. Setelah ditarik, yang pertama adalah jenazah Lettu Pierre Tendean, ajudan Jenderal Nasution.
Pukul 12.15 WIB, Serma KKO Suparimin turun, dia memasang tali pada salah satu jenazah, tapi rupanya jenazah itu tertindih jenazah lain sehingga tak bisa ditarik.
Pukul 12.30 WIB, giliran Prako KKO Subekti yang turun. Dua jenazah berhasil ditarik, Mayjen S Parman dan Mayjen Suprapto.
Pukul 12.55 WIB, Kopral KKO Hartono memasang tali untuk mengangkat jenazah Mayjen MT Haryono dan Brigjen Sutoyo.
Pukul 13.30 WIB, Serma KKO Suparimin turun untuk kedua kalinya. Dia berhasil mengangkat jenazah Letjen Ahmad Yani. Dengan demikian, sudah enam jenazah pahlawan revolusi yang ditemukan.
Pengangkatan_Jenazah 7 Jenderal korban PKI di_Lubang_BuayaSebagai langkah terakhir, harus ada seorang lagi yang turun ke sumur untuk mengecek apakah sumur sudah benar-benar kosong.
Tapi semua penyelam KKO dan RPKAD sudah tak ada lagi yang mampu masuk lagi. Mereka semua kelelahan.
Bahkan ada yang keracunan bau busuk hingga terus muntah-muntah.
Maka Kapten Winanto sebagai komandan terpanggil melakukan pekerjaan terakhir itu. Dia turun dengan membawa alat penerangan.
Ternyata benar, di dalam sumur masih ada satu jenazah lagi. Jenazah itu adalah Brigjen D.I. Panjaitan.
Dengan demikian lengkaplah sudah jenazah enam jenderal dan satu perwira pertama TNI AD yang dinyatakan telah hilang diculik Gerakan PKI pada tanggal 30 September 1965.
pengangkatan-jenazah-pahlawan-revolusi g30s pki di lubang buaya
Kapten KKO Winanto sendiri terus melanjutkan karirnya di TNI AL. Lulusan Akademi Angkatan laut tahun 1959 ini pernah menjabat Komandan Resimen Latihan Korps Marinir, Komandan Brigade Infanteri 2/Marinir sebelum pensiun sebagai Gubernur AAL.
Ia sudah meninggal pada Minggu, 2 September 2012 pukul 22.15 WIB dalam usia 77 tahun di kediamannya Jl Pramuka no 7, Kompleks TNI AL, Jakarta Pusat. Jenazahnya dimakamkan dengan upacara militer di San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat.
B. Kronologi Visum et Epertum Dokter Forensik
4 Oktober 1965. Pukul 4.30 sore saat itu. Lima dokter yang diperintahkan Pangkostrad dan Pangkopkamtib Mayor Jenderal Soeharto memulai tugas mereka.
Jenazah enam Jenderal dan satu perwira menengah korban penculikan dan pembunuhnan yang dilakukan kelompok Letkol Untung pada dinihari 1 Oktober mereka periksa satu persatu. Ketujuh korban itu adalah:
1. Ahmad Yani, Letnan Jenderal (Menteri Panglima Angkatan Darat).
2. R. Soeprapto, Mayor Jenderal. (Deputi II Menpangad).
3. MT. Harjono, Mayor Jenderal. (Deputi III Menpangad).
4. S. Parman, Mayor Jenderal. (Asisten I Menpangad).
5. D. Isac Panjaitan, Brigardir Jenderal. (Deputi IV Menpangad).
6. Soetojo Siswomihardjo, Brigardir Jenderal. (Oditur Jenderal/ Inspektur Kehakiman AD).
7. Pierre Andreas Tendean, Letnan Satu. (Ajudan Menko Hankam/ KASAB Jenderal AH Nasution).
Jenazah enam jenderal dan satu perwira muda Angkatan Darat ini ditemukan di sebuah sumur tua di desa Lubang Buaya, Pondokgede, Jakarta Timur. Dari lima anggota tim dokter yang mengautopsi ketujuh mayat itu dua di antaranya adalah dokter Angkatan Darat, yakni:
1. dr. Brigardir Jenderal Roebiono Kertopati (perwira tinggi yang diperbantukan di RSP Angkatan Darat)
2. dr. Kolonel Frans Pattiasina (perwira kesehatan RSP Angkatan Darat)
Sementara tiga lainnya adalah dokter Kehakiman, masing-masing:
3. Prof. dr. Sutomo Tjokronegoro (ahli Ilmu Urai Sakit Dalam dan ahli Kedokteran Kehakiman, juga profesor di FK UI)
4. dr. Liauw Yan Siang (lektor dalam Ilmu Kedokteran Kehakiman FK UI)
5. dr. Liem Joe Thay (atau dikenal sebagai dr. Arief Budianto, lektor Ilmu Kedokteran Kehakiman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), anda dapat membaca kisahnya di akhir halaman ini)
Akhirnya lewat tengah malam, pukul 12.30 atau dinihari pada tanggal 5 Oktober 1965, dr. Roebiono dkk menyelesaikan tugas mereka. Beberapa jam kemudian, saat matahari sudah cukup tinggi, ketujuh jenazah korban penculikan dan pembunuhan yang kemudian disebut sebagai Pahlawan Revolusi ini, dimakamkan di TMP Kalibata.
Tampak salah satu peti jenazah Pahlawan Revolusi sedang diangkat dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Tampak salah satu peti jenazah Pahlawan Revolusi sedang diangkat untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
C. Hasil Visum et Repertum Jenazah Tiap Korban

Ketika diperiksa ketujuh mayat telah dalam keadaan membusuk dan diperkirakan tewas empat hari sebelumnya. Dapat dipastikan ketujuh perwira tinggi dan pertama Angkatan Darat ini tewas mengenaskan dengan tubuh dihujani peluru dan tusukan.
1. Ahmad Yani (Menteri Panglima Angkatan Darat).

Jenazah Letjen Ahmad Yani diidentifikasi oleh Ajudan Menpangad Mayor CPM Soedarto dan dokter pribadinya, Kolonel CDM Abdullah Hassan, dengan penanda utama parut pada punggung tangan kiri dan pakaian yang dikenakannya serta kelebihan gigi berbentuk kerucut pada garis pertengahan rahang atas diantara gigi-gigi seri pertama.
Tim dokter menemukan delapan luka tembakan dari arah depan dan dua tembakan dari arah belakang. Sementara di bagian perut terdapat dua buah luka tembak yang tembus dan sebuah luka tembak yang tembus di bagian punggung.
a. Info dari Indo Leaks
Sebelumnya, dokumen visum et repertum Ahmad Yani yang dirilis Indoleaks juga hanya menyebutkan luka tembak.
Visum et Repertum Jenderal Ahmad Yani (Klik untuk memperbesar)
Visum et Repertum Jenderal Ahmad Yani (Klik untuk memperbesar). (sumber: blogs.swa-jkt.com/swa/10693/2013/01/29/30-september-1965)
Padahal Orde Baru mencatat kalau PKI telah mencungkil mata Pahlawan Revolusi itu.
2. R. Soeprapto (Deputi II Menpangad)
Jenazah Mayjen R. Soeprapto diidentifikasi oleh dokter gigi RSPAD Kho Oe Thian dari susunan gigi geligi sang jenderal.
Pada jenazah R. Soeprapto ditemukan:
(a) tiga luka tembak masuk di bagian depan,
(b) delapan luka tembak masuk di bagian belakang,
(c) tiga luka tembak keluar di bagian depan,
(d) dua luka tembak keluar di bagian belakang,
(e) tiga luka tusuk,
(f) luka-luka dan patah tulang karena kekerasaan tumpul di bagian kepala dan muka,
(g) satu luka karena kekesaran tumpul di betis kanan, dan
(h) luka-luka dan patah tulang karena kekerasan tumpul yang berat sekali di daerah panggul dan bagian atas paha kanan.
a. Indoleaks: Ternyata Saat Wafat, Organ Tubuh Letnan Jenderal Soeprapto Masih Utuh!
Letjen Suprapto adalah pahlawan revolusi yang menjadi korban pembunuhan G30 S PKI pimpinan DN Aidit dan Kolonel Untung. Beliau lahir di Purwokerto 20 Juni 1920 dan wafat di Lubang Buaya 1 Oktober 1965.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/57/Soeprapto.jpg/369px-Soeprapto.jpg
Letnan Jenderal TNI Anumerta R. Suprapto (lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, 20 Juni 1920 – meninggal di Lubangbuaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 45 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia merupakan salah satu korban dalam G30SPKI dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Pendidikan umum yang berhasil ia tamatkan adalah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yakni pendidikan setingkat SMP dan AMS (Algemne Middelberge School) yaitu pendidikan setingkat SMA.
Suprapto pernah mengikuti pendidikan militer Koninklijke Militaire Akademie di Bandung namun tidak tamat karena pendudukan Jepang.
Pada pemberontakan yang dilancarkan oleh PKI pada tanggal 30 September 1965, dirinya menjadi salah satu target yang akan diculik dan dibunuh.
Hingga meredupnya peristiwa tersebut, tak ada lagi yang membahasnya karena kini telah sibuk oleh brainwashed dunia lainnya dan mulai menganggap bahwa sejarah sudah lewat dan bukanlah apa-apa lagi. Padahal melalui sejarah, kita dapat belajar, karena sejarah adalah fakta, dan fakta adalah sejarah. Sejarah adalah track record.
b. Dokumen Visum et Repertum Letjen Suprapto
Kisah sadis menyertai peristiwa G30S PKI dalam sejarah yang dicatat Orde Baru. Letjen Anumerta R Soeprapto misalnya, disebut disilet-silet dan dipotong alat kelaminnya. Namun sebuah dokumen visum et repertum yang dirilis situs whistle blower Indoleaks, menunjukkan hal yang berbeda.
Dari situs resminya yang dikeluarkan sejak beberapa tahun lalu, Senin (13/12/2010), ada lagi sebuah dokumen visum et repertum yang dibuat oleh 4 dokter RSPAD yaitu dr Roebino Kertopati, dr Frans Pattiasina, dr Sutomo Tjokronegoro, dr Liaw Yan Siang, dr Lim Joe Thay, pada 5 Oktober 1965. Bagian nama, tempat tanggal lahir, pangkat, jabatan dan alamat sengaja dihitamkan.
Tampak dokumen Visum et repertum oleh dokter dituliskan pro justitia. Bahwa sumpah pro justitia tidak boleh bohong, tidak boleh menambah, tidak boleh mengurangi. Apa kenyataan itu, harus dimasukkan dalam visum et repertum itu harus jadi pegangan, sebab ini satu kenyataan, bukan khayalan.
Dokumen BPKI visum suprapto
Visum et Repertum Jenderal Suprapto (Klik untuk memperbesar). (sumber: blogs.swa-jkt.com/swa/10693/2013/01/29/30-september-1965)
Visum et Repertum Jenderal Suprapto (Klik untuk memperbesar). (sumber: blogs.swa-jkt.com/swa/10693/2013/01/29/30-september-1965)
Namun dari deskripsi luka, diduga kuat bahwa dokumen itu adalah dokumen visum et repertum Letjen TNI Anumerta R Soeprapto. Data pembandingnya adalah keterangan visum Letjen R Soeprapto yang pernah disebutkan dalam makalah pakar politik Indonesia dari Cornell University, AS, Ben Anderson, pada jurnal ‘Indonesia‘ edisi April 1987.
Ada kain sarung dan kemeja yang melekat pada korban. Ada beberapa persamaan dan banyak juga perbedaan antara luka Letjen Soeprapto versi Orde Baru dan dokumen visum yang asli. Berbeda dengan Ahmad Yani, Soeprapto masih hidup saat diculik dari rumahnya. Dia baru gugur di Lubang Buaya.
Dalam versi Orde Baru dan juga dilansir Harian Berita Yudha 9 Oktober 1965, wajah dan tulang kepala Soeprapto remuk namun masih dapat diidentifikasi. Hasil visum juga menunjukkan kalau ada luka dan pukulan benda tumpul yang menyebabkan patah tulang di bagian kepala dan muka.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/5/55/Lubang_Buaya.jpg
Lubang sumur tua sedalam 12 meter yang digunakan untuk membuang jenazah para korban G30S/PKI. Sumur tua itu berdiameter 75 Cm.
Nah, justru perbedaannya yang mencolok. Versi TNI menyebutkan ada pengakuan anggota Gerwani, bahwa mereka menyilet-nyilet korban, bahkan memotong alat kelamin korban. Namun, rupanya dalam dokumen yang diungkap Indoleaks, hal itu tidak terbukti.
Laporan visum untuk Soeprapto, selain patah/retak tulang tengkorak di enam titik, adalah patah tulang di betis kanan dan paha kanan.
Luka benda tumpul diduga batu atau popor senapan. Soeprapto memang mengalami 3 luka tusuk, namun dari bayonet dan bukan silet. Soeprapto juga gugur akibat 11 luka tembak di berbagai bagian tubuh. Selain itu tidak ada luka lagi. Tidak ada bukti penyiletan apalagi mutilasi alat kelamin.
Pembunuhan Letjen Soeprapto tentu saja tragis, namun tidak sesadis yang dijabarkan dalam catatan sejarah versi Orde Baru.
Ia juga salah satu perwira TNI yang menolak pembentukan angkatan kelima yang diusulkan PKI sehingga menjadi target pembunuhan PKI bersama Ahmad Yani, MT Haryono, DI Pandjaitan,Sutoyo Siswo Miharjo dan S.Parman.
http://letusexplore.com/albums/Jakarta/Lubang%20Buaya%20Jakarta.jpg
Monumen Pancasila Sakti, yang berada di daerah Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur ini, berisikan bermacam-macam hal dari masa pemberontakan G30S – PKI, seperti pakaian asli para Pahlawan Revolusi.
d. Perbandingan Informasi
Mari kita coba kembali flashback dari info diatas mengenai janazah Soeprapto, menurut info dari ABRI dan Indo Leaks.
i. Versi Orba dan TNI:
- Wajah dan tulang kepala Soeprapto remuk namun masih dapat diidentifikasi.
- Luka dan pukulan benda tumpul yang menyebabkan patah tulang di bagian kepala dan muka.
- Menurut versi TNI menyebutkan ada pengakuan anggota Gerwani, bahwa mereka menyilet-nyilet korban, bahkan memotong alat kelamin korban.
ii. Versi Indoleaks:
- Ada kain sarung dan kemeja yang masih melekat pada korban.
- Jenderal Soeprapto masih hidup saat diculik dari rumahnya.
- Dalam dokumen yang diungkap Indoleaks, Jendral ini tak disilet-silet, dan alat kelamin korban tak dipotong.
- Terdapat patah/retak tulang tengkorak di enam titik, adalah patah tulang di betis kanan dan paha kanan. Luka benda tumpul diduga batu atau popor senapan.
- Soeprapto memang mengalami 3 luka tusuk, namun dari bayonet dan bukan silet.
- Soeprapto juga gugur akibat 11 luka tembak di berbagai bagian tubuh. Selain itu tidak ada luka lagi. Tidak ada bukti penyiletan apalagi mutilasi alat kelamin.
3. MT. Harjono (Deputi III Menpangad)
Di bagian perut Mayjen MT. Harjono ditemukan sebuah luka tusuk benda tajam yang menembus sampai ke rongga perut. Luka tusuk benda tajam juga ditemukan di punggung, namun tidak menembus rongga dada. Dan di tangan kiri dan pergelangan tangan kanan terdapat luka karena kekerasan tumpul yang berat.
Jenazah Mayjen MT. Harjono diidentifikasi oleh saudara kandungnya, MT. Moeljono, pegawai Perusahaan Negara Gaya Motor. Salah satu tanda pengenal jenazah ini adalah cincin kawin bertuliskan “Mariatna”, nama sang istri.
Cincin kawin, bertuliskan “SPM” juga menjadi salah satu penanda jenazah Mayjen S. Parman, selain kartu tanda anggota AD dan surat izin mengemudi serta foto di dalam dompetnya.
4. S. Parman (Asisten I Menpangad)
Jenazah S. Parman diidentifikasi oleh dr. Kolenel CDM Abdullah Hasan.
Pada mayat S. Parman ditemukan:
(a) tiga luka tembak masuk di kepala bagian depan,
(b) satu luka tembak masuk di paha bagian depan,
(c) satu luka tembak masuk di pantat sebelah kiri,
(d) dua luka tembak keluar di kepala,
(e) satu luka tembak keluar di paha kanan bagian belakang, dan
(f) luka-luka dan patah tulang karena kekerasan tumpul yang berat di kepala, rahang dan tungkai bawah kiri.
5. D. Isac Panjaitan (Deputi IV Menpangad)
Mayat Brigjen DI. Panjaitan diidentifikasi oleh adiknya, Copar Panjaitan dan Samuel Panjaitan, dan dikenali dari pakaian dinas yang dikenakannya serta cincin mas di tangan kiri yang bertuliskan “DI. Panjaitan”.
Tim dokter menemukan luka tembak masuk di bagian depan kepala, juga sebuah luka tembak masuk di bagian belakang kepala. Sementara itu di bagian kiri kepala terdapat dua luka tembak keluar. Terakhir, di punggung tangan kiri terdapat luka iris.
6. Soetojo Siswomihardjo (Oditur Jenderal/ Inspektur Kehakiman AD).
Mayat berikutnya adalah Brigjen Soetojo Siswomihardjo yang diidentifikasi oleh adiknya, dokter hewan Soetopo. Jenazah Brigjen Soetojo dikenali dari kaki kanannya yang tidak ber-ibujari, pakaian yang dikenakannya, arloji merek Omega dan dua cincin emas masing-masing bertuliskan “SR” dan “SS”.
Pada mayat Brigjen Soetojo ditemukan:
(a) dua luka tembak masuk di tungkai bawah kanan bagian depan,
(b) sebuah luka tembak masuk di kepala sebelah kanan yang menuju ke depan,
(c) sebuah luka tembak keluar di betis kanan sebagian tengah,
(d) sebuah luka tembak keluar di kepala sebelah depan, dan
(e) tangan kanan dan tengkorak retak karena kekerasan tumpul yang keras atau yang berat.
7. Pierre Andreas Tendean (Ajudan Menko Hankam/ KASAB Jenderal AH Nasution)
Selanjutnya adalah mayat Lettu P. Tendean yang dikenali perwira kesehatan Dirkes AD CDM Amoro Gondoutomo yang menjadi dokter pribadi Menko Hankam/KASAB.
Mayat P. Tendean dikenali dari pakaian yang dikenakannya, gigi geligi dan sebuah cincin logam dengan batu cincin berwarna biru.
Pada mayat P. Tendean tim dokter menemukan:
(a) empat luka tembak masuk di bagian belakang,
(b) dua luka tembak keluar bagian depan,
(c) luka-luka lecet di dahi dan tangan kiri, dan
(d) tiga luka ternganga karena kekerasan tumpul di bagian kepala.
D. Format Dokumen Visum et Repertum 7 Jenazah orban

Dokumen visum et repertum ketujuh korban yang saya peroleh dituliskan dalam format yang sama. Di pojok kanan atas halaman depan terdapat tulisan “Departmen Angkatan Darat, Direktortat Kesehatan, Rumah Sakit Pusat, Pro Justicia”.
Sementara di pojok kiri halaman depan tertulis “Salinan dari salinan.”
Bagian kepala laporan bertuliskan “Visum et Repertum” diikuti nomor laporan pada baris bawah yang dimulai dari H.103 (Letjen Ahmad Yani) hingga H.109 (Lettu P. Tendean).
Bagian awal laporan adalah mengenai dasar hukum tim dokter tersebut. Pada bagian ini tertulis rangkaian kalimat sebagai berikut:
“Atas perintah Panglima Kostrad selau Panglima Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban kepada Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat di Jakarta, dengan surat perintah tanggal empat Oktober tahun seribu sembilan ratus enam puluh lima, nomor PRIN-03/10/1965 yang ditandatangani oleh Mayor Jenderal TNI Soeharto, yang oleh Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat diteruskan kepada kami yang bertandatangan di bawah ini.”
Diikuti nama dan jabatan kelima dokter anggota tim. Setelah itu adalah bagian yang menjelaskan kapan dan dimana visum et repertum dilakukan. Pada bagian ini tertulis kalimat:
“maka kami, pada tanggal empat Oktober tahun seribu sembilan ratus enam pulu limam mulai jam setengah lima sore sampai tanggal lima Oktober tahun seribu sembilan ratus enam puluh lima jam setengah satu pagi, di Kamar Seksi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, Jakarta, telah melakukan pemeriksaan luar atas jenazah yang menurut surat perintah tersebut di atas adalah jenazah dari pada.”
Bagian ini diikuti oleh bagian berikutnya yang menjelaskan jati diri jenazah dimulai dari nama, umur/tanggal lahir, jenis kelamin, bangsa, agama, pangkat, dan terakhir jabatan.
Selanjutnya ada sebuah paragraph yang menjelaskan kondisi terakhir jenazah sebelum ditemukan dan diperiksa. Pada bagian ini tertulis:
“Korban tembakan dan/atau penganiayaan pada tanggal satu Oktober tahun seribu sembilan ratus enam pulu lima pada peristiwa apa yang dinamakan Gerakan 30 September.”
Bagian ini dikuti oleh penjelasan identifikasi; siapa yang mengidentifikasi dan apa-apa saja tanda utama yang dijadikan patokan dalam identifikasi itu.
Setelah bagian indentifikasi, barulah tim dokter memaparkan temuan mereka dari “hasil pemeriksaan luar” yang dilakukan terhadap jenazah sebelum mengkahirinya dengan “kesimpulan”.
http://teguhtimur.files.wordpress.com/2009/04/dsc05291.jpg?w=300&h=200 dsc05293
Keterangan gambar atas: Diorama penyiksaan para Jenderal dan Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya, Jakarta (klik untuk memperbesar, sumber gambar: insulinda.wordpress.com)
Bagian penutup diawali dengan tulisan “Dibuat dengan sesungguhnya mengingat sumpah jabatan” pada bagian kanan. Diikuti nama dan tanda tangan serta cap kelima dokter anggota tim.
Bagian paling akhir dari dokumen-dokumen yang saya peroleh ini mengenai autentifikasi dokumen. Karena dokumen ini merupakan “salinan dari salinan” maka ada dua penanda autentifikasi dokumen ini.
Bagian pertama bertuliskan “Disalin sesuai aslinya” dan ditandatangani oleh “Yang menyalin” yakni Kapten CKU Hamzil Rusli Bc. Hk. (Nrp. 303840) selaku panitera.
Bagian kedua autentifikasi bertuliskan “Disalin sesuai dengan salinan” dan ditandatangani oleh “Panitera dalam Perkara Ex LKU” Letnan Udara Satu Soedarjo Bc. Hk. (Nrp. 473726). Namun tidak ditemukan petunjuk waktu kapan dokumen ini disalin dan disalin ulang.
E. Kisah dr. Arif yang Ikut Mengotopsi Mayat Tujuh Pahlawan Revolusi 1965 (oleh T. Santosa)
Di atas kursi roda, mengenakan kaos oblong putih dan sarung biru bergaris-garis, Lim Joe Thay duduk terdiam. Bibirnya mengatup, sering kedua telapak tangannya ditangkupkan di depan dada dan sekali-sekali diletakkan di atas paha. Rambutnya telah memutih sempurna. Dia tak banyak bicara. Kalau pun bersuara, kata-katanya terdengar sayup dan samar.
dr. Liem Joey Thay alias Arief Budianto dokter visum jenderal pahlawan revolusi 2
dr. Liem Joey Thay alias Arief Budianto sedang duduk di kursi roda.
Bulan Juni 2008 yang lalu, dr. Arif sempat dirawat di RS St. Carolus. Ketika menerima kabar itu dari salah seorang kerabat dr. Arif, saya dan Dandhy menyempatkan diri menjenguknya.
Di RS. St. Carolus kami sama-sama mengabadikan dr. Arif. Bedanya, Dandhy menggunakan video kamera merek Panasonic, sementara saya menggunakan kamera saku digital merek Canon.
Tadinya, informasi yang kami terima menyebutkan bahwa dr. Arif terkena serangan struk. Setelah kami bertemu dengan beliau di paviliun St. Carolus, dan berbicara dengan istrinya, Ny. Arif, barulah kami ketahui bahwa dr. Arif dirawat karena terjatuh saat hendak naik ke kursi rodanya.
Sekali waktu laki-laki yang kini berusia 83 tahun itu bergumam. Mumbling. Saya mencoba menangkap isi ceritanya. Tidak jelas. Terpotong-potong, patah-patah. Kalau disambungkan seperti cerita tentang sepasukan tentara yang bergerak di sebuah tempat, entah di mana. Tapi cerita itu tak tuntas. Dia menutup sendiri ceritanya, mengalihkan pandangan mata ke sembarang arah, sebelum kembali menenggelamkan diri dalam diam.
Di saat yang lain, dia kembali menanyakan nama saya. Dan kalau sudah begini, saya memegang tangannya, menyebutkan nama saya sambil menatap matanya. Setelah itu senyumnya sedikit mengembang.
dr. Liem Joey Thay alias Arief Budianto dokter visum jenderal pahlawan revolusiDikenal dengan nama dr. Arief Budianto, tak banyak yang menyadari Lim Joey Thay adalah tokoh penting. Sangat penting, bahkan.
Dia adalah satu dari segelintir orang yang berada di titik paling menentukan dalam sejarah negara ini setelah Proklamasi 1945.
Lim Joey Thay yang ketika itu adalah lektor Ilmu Kedokteran Kehakiman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) merupakan satu dari lima ahli forensik (lihat daftar dokter diatas halaman) yang berdasarkan perintah Soeharto memeriksa kondisi ketujuh mayat tersebut sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, siang hari 5 Oktober.
Kini dari lima anggota tim otopsi itu, tinggal Lim Joey Thay dan Liu Yang Siang yang masih hidup. Lim Joey Thay kini sakit-sakitan, sementara sejak beberapa tahun lalu, Liu Yan Siang menetap di Amerika Serikat dan tidak diketahui pasti kabar beritanya.
Berpacu dengan waktu dan proses pembusukan, mereka berlima bekerja keras selama delapan jam, dari pukul 4.30 sore tanggal 4 Oktober, hingga pukul 12.30 tengah malam 5 Oktober, di kamar mayat RSP Angkatan Darat.
g30s pki gestapu 1965 03 g30s pki gestapu 1965 04
Keterangan gambar atas (klik untuk memperbesar): Para pengikut partai PKI yang ditangkap sedang dijaga ABRI (kiri). Sebelum dibunuh para korban diarak warga menuju tempat pembantaian (kanan).
Sedangkan beberapa tahun lalu, Benedict Anderson telah menggunakan hasil visum et repertum ini sebagai rujukan dalam artikelnya di jurnal Indonesia Vol. 43, (Apr., 1987), pp. 109-134, How Did the Generals Die?  
Saya mendapatkan copy visum et repertum itu dari Dandhy DL, jurnalis RCTI. Tahun lalu, dia juga menurunkan liputan mengenai dr. Arif dan visum et repertum ketujuh pahlawan revolusi korban, meminjam istilah Bung Karno, intrik internal Angkatan Darat dan petualangan petinggi PKI yang keblinger, serta konspirasi nekolim.
g30s pki gestapu 1965 05 g30s pki gestapu 1965 07
Keterangan gambar atas (klik untuk memperbesar): Para korban pembantaian diinterogasi terlebih dahulu agar memberitahukan siapa lagi yang ikut PKI (kiri). Sebelum dibantai, para korban disuruh untuk menggali liang lahatnya sendiri (kanan).
Ketujuh pahlawan revolusi itu jelas mati dibunuh. Namun dari hasil otopsi yang mereka lakukan sama sekali tidak ditemukan tanda-tanda pencungkilan bola mata, atau apalagi, pemotongan alat kelamin seperti yang digosipkan oleh media massa yang dikuasai Angkatan Darat ketika itu.
Gosip mengenai pemotongan alat kelamin, bahkan ada gosip yang menyebutkan ada anggota Gerwani yang setelah memotong alat kelamin salah seorang korban, lantas memakannya– telah membangkitkan amarah di akar rumput.
Gosip-gosip ini, menurut Ben Anderson dalam artikelnya yang lain (saya sedang lupa judulnya) sengaja disebarkan oleh pihak militer.
g30s pki gestapu 1965 06 g30s pki gestapu 1965 08 g30s pki gestapu 1965 09
Keterangan gambar atas (klik untuk memperbesar): Sebelum dibunuh, korban dipertontonkan dimuka umum (kiri). Dengan kondisi tali melingkar di leher dan tangan terikat, korban masuk ke liang lahat pembantaian yang digali oleh calon korban sendiri (tengah). Eksekutor mengatur posisi korban sebelum pembantaian (kanan).
Maka gosip-gosip dan propaganda-propaganda yang dihembuskan dengan kuat tersebut bagai minyak tanah yang disiramkan ke api. Menyambar-nyambar. Membuat rakyat marah, bahkan sangat marah.
Selanjutnya, pembantaian besar-besaran terhadap anggota PKI dan/atau siapa saja yang dituduh menjadi anggota PKI atau memiliki relasi dengan PKI, terjadi di mana-mana, seantero Indonesia.
g30s pki gestapu 1965 15
Spanduk-spanduk pemancing amarah rakyat tampak memenuhi kota-kota di Indonesia.
g30s pki gestapu 1965 10 g30s pki gestapu 1965 12
Keterangan gambar atas (klik untuk memperbesar): Eksekutor mengatur para calon korban pembantaian yang kebanyakan masih remaja (kiri). Tampak eksekutor menghujamkan pisau bayonet berkali-kali ke tubuh korban pembantaian yang terikat tanpa daya itu satu demi satu sehingga korban mati perlahan karena rusaknya organ dalam dan kehabisan darah, suasana sadis itu bahkan ditonton dimuka umum termasuk anak-anak kecil (kanan).
Bahkan walau tak masuk PKI, namun semua masyarakat yang mencintai Bung Karno dapat juga menjadi korbannya. Hanya dengan memajang foto atau lukisan sang Proklamator saja, maka sudah cukup bukti bagi anda dan akan merasakan akibatnya, dituduh sebagai PKI walau tanpa bukti-bukti lain.
Dengan hanya berbekal foto Bung Karno yang dipajang di dinding rumah, sudah cukup membuat tentara-tentara menyeret anda keluar rumah menuju ke dalam liang lahat pada masa itu!
Masih ingat buku edisi 2 jilid ukuran besar berjudul “Dibawah Bendera Revolusi” tulisan Bung Karno? Buku tersebut sempat hilang diperedaran setelah era Orde Baru (New World Order) berkuasa.
Tak ada yang berani mengeluarkannya dari dalam lemari atau laci, semua tersimpan rapi. Dulu, karena hanya dengan memiliki buku itupun, sudah cukup bukti bagi tentara untuk dapat menyeret anda masuk ke liang lahat.
Oleh sebab itulah setelah rezim Orde Baru tumbang, sepasang buku “Dibawah Bendera Revolusi” tulisan Bung Karno kembali marak, bahkan untuk buku asli cetakan pertama, harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah!
g30s pki gestapu 1965 13 g30s pki gestapu 1965 14
Keterangan gambar atas (klik untuk memperbesar): Tampak korban pembantaian yang tewas ditusuk lalu mayatnya dibiarkan dipinggir jalan (kiri). Tampak korban yang telah tewas dan masih tergantung di pohon masih dipukul-pukuli dengan kursi didepan masyarakat umum termasuk anak-anak kecil (kanan).
Catatan tidak resmi menyebutkan setidaknya 500 ribu hingga 3 juta orang tewas dalam pembantaian massal yang terjadi hanya dalam beberapa tahun itu.
Namun pada masa itu, tak ada satupun media yang berani menyatakan kira-kira banyaknya korban pembantaian ini secara terbuka.
g30s pki gestapu 1965 17
Tampak pemberitaan tentang peristiwa tragis Gerakan 30 September ini, menjadi Headline di surat kabar Harian Rakjat.
Media pada masa itu benar-benar harus pro pemerintah (mirip di A.S. sekarang – pen.) dan semua media harus menyaring informasi yang akan dicetak untuk masyarakat Indonesia.
Pada tanggal 22 November 2011 lalu, sekitar pukul 19.00 WIB, akhirnya dr. Lim Joe Thay atau Arief Budianto meninggal dunia dengan tenang.
Pria berusia 85 tahun itu menghembuskan nafas terakhir di kediamannya di Jalan Johar Baru, Salemba, Jakarta Pusat.
Dan saksi sejarah itu pun ikut membawa kenangan pahit Indonesia, tentang sejarah visum para ketujuh Pahlawan Revolusi.
Maka, sejarah yang selalu ditulis oleh sang pemenang, kembali menuai banyak partanyaan tambahan, namun kini ikut terkubur. Semoga bermanfaat dan sejarah pahit tak terulang kembali di negeri ini. Aamiin.
g30s pki gestapu 1965 16
Upacara penaikan dan pengibaran bendera setengah tiang di Istana Presiden Jakarta, sebagai simbol negara tengah berduka pasca wafatnya 7 Pahlawan Revolusi di tahun 1965.
Special Thanks to: teguhtimur.com
(sumber: detiknewsblogs.swa-jkt.com/teguhtimur.com/insulinda.wordpress.com/ Jakartabeat.net/ wikipedia/ edited by: icc)
suharto di musium lubang buaya
korban pki di lubang-buayasuharto piye kabare enak dijamanku toh
misteri 7 jenazah pahlawan revolusi banner
VIDEOs:
(Bhs Inggris) CIA bantu Suharto menggulingkan Sukarno melalui PKI dan “Black Operation”
(PART-1) Kuburan Massal di Indonesia (Mass Grave in Indonesia) (PART-2) (FULL VERSION)
(PART-1) G30S/PKI : Kudeta Terselubung (PART-2)
40 Years Of Silence: An Indonesian Tragedy (long trailer – 2hrs 30 mnts)
Artikel Lainnya:
*****

Rabu, 07 Agustus 2013

Goenawan Mohamad "Rahim"

Dalam bahasa Arab ada sepasang kata yang tiap kali diucapkan seorang muslim: “rahman” dan “rahim”. Kata itu sering diterjemahkan jadi “pengasih dan penyayang”, tapi lebih akurat bahasa Inggris-nya: compassioniate, dari kata compassion.
Ada yang meng-indonesia-kannya jadi “belarasa”, tapi saya kira kata “bela” mengandung hadirnya sebuah subyek yang menentukan sebuah laku, seperti dalam kata “bela diri” atau “bela sungkawa”. Compassion justru bermula dari saat tak menonjolnya subyek. Kata “rahim” juga berarti “kandungan”; dalam bahasa Ibrani, riḥam berakar kata reḥem, artinya “ibu” atau “rahim”. Di sanalah saat dua pihak bersentuhan akrab, saling menumbuhkan: aku ada bersama engkau, di dalam engkau, ketika rasa sakit, duka, dan kehilangan melukai engkau.
Kata “engkau” berarti siapa saja: liyan yang tak dibatasi identitas, liyan yang satu-satunya cirinya adalah menanggungkan penderitaan. Itulah saat compassion seperti dalam cerita Yesus tentang seorang Samaria yang tanpa pamrih menolong seorang Yahudi: menyelamatkan seorang yang luka-luka karena diserang perampok meskipun ia dan orang itu berasal dari puak-puak yang saling membenci.
Karen Armstrong memahami hal ini jauh sebelum ia menulis Twelve Steps to A Compassionate Life. Ia berbicara tentang kenosis, mengosongkan diri, membuat “aku” suwung, dan ekstasis, mengeluarkan diri. “Kita paling kreatif dan menyadari kemungkinan-kemungkinan lain yang melampaui pengalaman kita sehari-hari ketika kita meninggalkan diri kita”. Itu kalimatnya dalam The Spiral Staircase: My Climb Out of Darkness.
Buku yang terbit pada 2004 ini kisah pergulatan batinnya sejak pada 1962 ia masuk ke dalam kehidupan biarawati sampai ketika ia meninggalkannya — seraya melambai selamat tinggal kepada Tuhan dan imannya.
Perjalanan itu tak mudah. Sebuah puisi memberinya imaji tentang kegalauan diri itu. Armstrong, yang kemudian masuk ke jurusan sastra di Oxford, membaca sajak T.S. Eliot Ash Wednesday yang seakan-akan ingin menyusun doa di hari pertama puasa menjelang Paskah. Ia bayangkan sang penyair menaiki sebuah tangga spiral: naik, berpusar, berulang, mendaki terus. Dan biarawati muda itu merasa bahwa ia juga sedang berada dalam tangga berkelok-kelok ke atas itu: sebuah perjalanan puasa dan taubat. Ia merasa hatinya yang buncah ditemani baris-baris sajak yang memukau itu: saat-saat yang selaras berganti-ganti dengan yang ganjil, yang disonan, terkadang berulang-ulang, sering mengejutkan, tak jarang dalam susunan yang samar. Bahkan suram, antara tekad dan putus asa:
Because I do not hope to turn again
Because I do not hope
Because I do not hope to turn
Pada mulanya adalah diri yang tak berarti. Di awal puasa, orang Katolik, tulis Armstrong, “membalur dahi mereka dengan abu untuk mengingatkan mereka akan kefanaan mereka”. Sebab hanya ketika kita menyadari kerapuhan dalam fitrah kita, kita akan dapat memulai ikhtiar kita untuk menjangkau.
Meskipun dalam dirinya tak ada harapan kebangkitan kembali di ujung tangga spiral itu, tampaknya masih ada sisa makna tradisi itu ketika Armstrong berbicara tentang kenosis dan ekstasis dalam proses menyatukan diri dengan liyan, dengan yang di luar diri. Sebaris kalimat dalam Ash Wednesday bisa mengingatkan hubungan antara ketiadaan ego itu dengan kebersamaan: Forgetting themselves and each other, united/In the quiet of the desert. Ketika semua orang “melupakan diri mereka sendiri dan satu sama lain, mereka pun berpadu, dalam sunyi gurun pasir”.
Menarik, Armstrong mengacu ke sajak Eliot yang ditulis setelah sang penyair memilih jadi umat Gereja Anglikan (ia sebut “Anglo-Katolik”), sementara Armstrong sendiri meninggalkan kepercayaan Katoliknya. Dan lebih radikal, Tuhan tak hadir lagi dalam kehidupannya.
Tapi tak untuk selamanya. Kemudian ia menelaah agama di luar Kristen, mempelajari Islam dan Yudaisme. Ia pun merasa Tuhan berarti kembali justru dalam ketidak-hadiran. Armstrong menyebut dirinya “freelance monotheist”, seorang monotheis yang tak bergabung dalam agama apapun. Ada yang menyebutnya atheis, tapi baginya, atheisme sebenarnya menampik Tuhan dalam citra tertentu. Jika Tuhan dilihat sebagai satu ego yang mencampuri kemerdekaan dan kreatifitas manusia, Ia mirip tiran di bumi yang membuat siapa saja cuma sekrup dalam mesin yang dikontrolnya. Dalam hal itu atheisme dapat “dibenarkan”. Bagi Armstrong, Tuhan patut ditolak bila Ia membuat kita kejam, mudah menghakimi, menghukum, dan menyingkirkan, jauh dari sifat rahim.
Sebab yang utama adalah bagaimana berbuat baik. “Cara sejati menghormati Tuhan hanyalah dengan bertindak secara moral seraya tak menghiraukan bahwa Ia ada,” tulisnya dalam A History of God.
Bertindak secara moral berarti memperlakukan liyan, mereka yang bukan-aku, sebagai tanda rahmat-Nya. Dalam kalimat yang mengingatkan kita kepada Emanuel Lévinas, Armstrong mengatakan, kita kadang-kadang dapat menemukan Tuhan dalam “asingnya seorang asing”, “sebuah sifat asing yang mula-mula dapat membuat kita jijik tapi dapat menyentakkan kita dari sikap mementingkan diri sendiri”, meskipun orang itu “bukan bagian dari kelompok ethnik, agama atau ideologi kita”. Dalam “intonations of that sacred otherness” itulah kita dengar sabda Tuhan.
Di satu bagian Ash Wednesday ada baris yang bertanya, akankah suster yang bercadar itu berdoa juga bagi “anak-anak di pintu gerbang yang tak hendak pergi, yang tak bisa berdoa” — dan juga yang menentang.
Will the veiled sister pray
For children at the gate
Who will not go away and cannot pray:
Pray for those who chose and oppose
Saya yakin, Armstrong akan menjawab “seharusnya”.
Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad "Maaf"

Nasionalisme bisa melampaui dirinya sendiri. Memang tak selalu.  Tapi Nelson Mandela telah menunjukkannya. Bila ia terasa tulus dan menggetarkan,  itu karena suaranya datang dari kancah orang-orang yang menanggungkan aniaya yang begitu jahanam hingga terasa tak pantas terjadi pada siapa saja,  Afrika atau bukan Afrika.
Ia menulis dalam otobiografinya yang memukau, Long Walk To Freedom: “Menjadi merdeka bukanlah semata-mata melempar jauh-jauh rantai yang membelenggu diri sendiri”. Menjadi merdeka berarti “hidup dengan menghormati dan meneguhkan kemerdekaan orang lain.”
Kalimat itu, tercantum di bagian akhir buku itu, punya riwayat yang berliku, terpatah-patah, tapi senantiasa teguh.
Ceritanya dimulai dari akhir sebuah ritus, ketika ia masih dipanggil dengan nama kecilnya, Rolihlahla,  Pada umur 16, bocah  suku Xhosa itu baru selesai menjalani upacara disunat.  Bersama anak-anak lain di desanya, ia harus meninggalkan tahap remajanya, menjadi abkhwetha yang, siap dipotong kulit kulupnya.  Setelah itu segala lambang dari  masa lalu hidupnya dibakar.
Rolihlahla merasa bangga telah melalu ritus itu, apalagi ia diberi hadiah seekor lembu muda dan empat ekor domba. Tapi sesuatu tiba-tiba mengganggu kegembiraannya. Seorang-orang tua, Meligqili, ketua suku, berpidato.  Di tengah sambutannya ia memandang ke arah para pemuda yang baru disunat.


Di sana duduk putra-putra kita, muda, sehat, dan tampan, kembang suku Xhosa, kebanggaan bangsa kita. Kita baru menyunat mereka dalam satu upacara yang menjanjikan kehidupan lelaki.. Tapi… janji itu kosong dan memperdaya… Karena kita, orang-orang Xhosa, dan semua orang hitam di Afrika Selatan, adalah kaum yang ditaklukkan. Kita budak di negeri kita sendiri. Kita penyewa tanah kita sendiri. Kita tak punya kekuatan, kekuasaan, kendali atas nasib kita sendiri di tanah kelahiran kita. Anak-anak muda itu akan pergi ke kota-kota besar, tempat mereka akan hidup dalam gubuk dan menenggak alkohol murah,… karena kita tak punya tanah yang bisa berikan kepada mereka tempat mereka bisa makmur dan beranak-pinak. Mereka akan batuk memuntahkan isi paru-paru mereka ke dalam tambang-tambang orang kulit putih… hingga orang putih dapat hidup sejahtera tiada tara.”

Kata-kata dari kemarahan di lubuk hati itu memperkenalkan Rolhlaha dengan penindasan — meskipun malam itu ia anggap Pak Ketua Suku bodoh karena menampik kehadiran orang kulit putih yang telah membawa dunia modern ke Afrika Selatan.  Mandela jengkel — tapi sebenarnya apa yang dikatakan Meligqili masuk ke hatinya. Pak tua itu “telah menanamkan sebutir benih” yang kelak tumbuh.
Kelak — ketika ia sadar bahwa yang bodoh hari itu bukanlah Meligqili, tapi dirinya.
Kemudian datang seorang penyair.
Krune Mqhayi adalah imbongi  yang menyanyikan lagu-lagu pujian untuk kejadian penting dalam sejarah suku.  Tapi ia juga novelis bahasa Xhosa yang berpengaruh. Ketika ia datang ke sekolah menengah tempat Mandela belajar, panggung pun disiapkan dan semua guru serta petugas administrasi sekolah hadir. Mandela berdebar-debar menunggu tokoh ini muncul.
Tapi pada pandangan pertama, Mqhayi mengecewakannya. Penyair ini menarik perhatian karena ia mengenakan kaross kulit macan tutul beserta topinya dan membawa sebatang tombak assegai. Tapi sosoknya tak menonjol, bicaranya tak lancar, juga gerak tubuhnya. Satu saat, ujung tombaknya membentur kawat logam pada tirai. Bunyinya keras dan tirainya goyang.
Tapi kemudian, justru benturan tombak dengan kawat logam itu bukan sia-sia: Mqhayi membuatnya jadi sebuah amsal. Suaranya mengeras ketika ia memaparkan bahwa tombak itu, yang diraut dari tulang hewan, melambangkan keagungan Afrika, “Afrika sebagai pahlawan perang dan Afrika sebagai seniman”.  Sementara si kawat logam hasil pabrik orang Barat, “trampil tapi dingin, pintar tapi tak berjiwa”.  Maka benturan tadi sesungguhnya sebuah kiasan tentang “bentrokan yang sengit antara yang pribumi, yang baik, dan yang asing, yang buruk”.
Yang “pribumi”, bagi Mqhayi, adalah Xhosa — bukan Afrika Hitam seluruhnya. Sang penyair mempersembahkan Bintang Pagi kepada “Bumi Xhosa”, “bangsa yang bangga dan perkasa”.  Ia mengatakannya sambil merunduk, berlutut.
Syahdan, yang hadir, terutama Mandela, bertepuk tangan gemuruh. “Aku bangga benar-benar, bukan sebagai seorang Afrika, tapi sebagai seorang Xhosa”, tulisnya.  Ia, yang pada umur 16 disadarkan akan adanya penindasan orang kulit putih terhadap “semua orang hitam di Afrika”, hari itu justru terbawa ke dalam nasionalisme yang “parokhial”.
Kita tahu kemudian Mandela berubah. Ia kembali ke nasionalisme yang merangkul semua: Xhosa dan bukan Xhosa, kulit hitam atau bukan. Ia, yang pernah dipenjara total selama 27  tahun, telah menanggungkan sebuah rezim yang dengan brutal mengukuhkan supremasi orang kulitputih. Ia bagian dari Afrika yang diperlakukan sebagai makhluk yang tak pantas dianggap setara.  Tapi di akhir hukuman penjaranya kata-katanya seperti suara pemberian maaf yang mustahil: “Berjalan menuju gerbang yang  mengantarku ke kebebasan, aku tahu, jika tak kutinggalkan kepahitan dan kebencianku, aku akan tetap seorang yang terpenjara.”
Kalimat itu pasti bukan untuk dunia yang hanya mau memaafkan bila si jahat bertobat. Maaf Mandela tak menuntut itu, juga tak meletakkan diri lebih luhur. Derrida, yang mendambakan “permaafan yang murni”, akan menyebut sikap Mandela, yang dikaguminya, sebagai “kegilaan” meloncat ke dalam la nuit de l’inintelligible — malam yang menyimpan hal-hal yang tak perlu dimengerti.  Tapi maaf yang sulit dimengerti itu menyelamatkan kita dari kebencian baru.
Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad "Machiavelli, Marxisme, dan Mungkin"

…. ide-ide Niccolo Machiavelli, filsuf politik abad ke-16, sangat bermanfaat…  pendekatannya terfokus pada peran individu sebagai aktor mandiri yang memiliki, menciptakan, dan memanfaatkan sumber daya politik.  Pendekatan ini berbeda sekali dengan fokus Marx dan pengikutnya pada pergolakan dan perbenturan kelas yang amat membatasi atau malah menafikan peran individu selaku penyebab perubahan sosial.                               
 R. William Liddle, ‘Marx atau Machiavelli: Menuju Demokrasi Yang Bermutu di Indonesia dan Amerika’ – ‘Nurcholish Madjid Memorial Lecture’, di Aula Universitas Paramadina, Jakarta, 8 Desember 2011.   
***
Machiavelli adalah sepatah kata kotor yang tidak bisa dielakkan. Nama itu selalu dikaitkan dengan kalimat ´tujuan menghalalkan cara.’  Tetapi  orang Italia ini  juga dikenang karena menulis sebuah buku tentang kepemimpinan politik yang selama 500 tahun diperbincangkan. Ia bukan cuma sebuah bunyi suram.
Ia memang tidak merumuskan pikirannya sebagai sebuah teori. Tak ada metafisika dalam tulisannya. Tak ada telaah etika.  Ia berangkat dari pengalaman — jalan panjang yang ujungnya kegagalan. Bukunya itu, Il Principe, yang dengan cepat rampung di tahun 1516,  ditulisnya di sebuah villa tua tempat ia mengundurkan diri. Setelah ia kalah.
Tiga tahun sebelumnya, ia, pejabat tinggi Republik Firenze, kalah dalam perang dan politik, kehilangan jabatan, dan sempat ditahan dan disiksa.  Selepas itu, bersama isteri dan empat anaknya ia menyingkir  ke San Casciano, 15 km di barat daya Firenze.
Dari sini lahir ‘pamflet’ itu, yang dalam bahasa Latin disebut De prinsipatibus, (belum dalam bentuk buku), pada tahun 1513. Uraiannya yang lebih panjang disebut  Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio — paparan seorang peminat sejarah yang sedang ingin mengubah zamannya seendiri.
Il Principe adalah analisa kiat kekuasaan.  Bila ‘teori politik’ sebelumya memberi pedoman bahwa seorang pemimpin politik baru sah menggunakan kekuasannya bila disertai moral yang lurus, Il Principe tidak. Dalam kitab ini politik adalah kepiawaian tinggi untuk membentuk, merebut, mempertahankan, dan memperkuat negara, lo stato. Moralitas dan agama hanya penting sepanjang membantu tujuan itu.
Buku itu dilarang Gereja pada tahun 1559. Machiavelli memang tak berharap banyak dari agama. Baginya, agama, dalam hal ini agama Kristen, hanya mengagungkan manusia yang lembut hati dan kontemplatif, bukan manusia yang bertindak. Padahal dalam politik yang terpenting adalah virtù.
Virtù berarti kejantanan, tapi maknanya bertaut dengan tindakan: ketegasan, keberanian, kegesitan, kelicikan — semua sikap yang perlu buat mengukuhkan kekuasaan.
Dengan virtù manusia menghadapi dan mengalahkan nasib, Fortuna.  Machiavelli mengiaskan Fortuna sebagai ‘sungai yang destruktif’, yang bila marah, mendatangkan banjir. Tapi ‘sungai’ itu, Fortuna, bisa dijinakkan. Dengan bahasa seorang misogynis, Machiavelli mengibaratkan Fortuna ‘seorang perempuan’ yang perlu digocoh dan dipentung, agar bisa ‘dikendalikan.’  Dengan virtù.
***
Machiavelli hidup di zaman Renaissance yang meyakini manusia sebagai pengukur semesta. Tidak mengherankan bila dengan konsep virtù ia membuka jalan bagi ide tentang ‘subyek’ yang jadi ciri dunia modern: manusia sebagai ‘aku’ yang tidak gentar sihir alam. Dengan akalnya, ‘aku’ menjinakkan nasib dan dunia.
Saya kira ide tentang ‘subyek’ itulah  yang bergema dalam pengertian Liddle tentang ‘individu’. Seperti saya kutip di atas tulisan ini, bagi Liddle individu itu ‘aktor mandiri’. Ia ‘memiliki, menciptakan, dan memanfaatkan sumber daya politik’.
Dari situ Liddle mengemukakan yang dilihatnya sebagai kelemahan, bahkan kegagalan, Marxisme.  Tapi saya berpendapat premis ilmuwan politik itu sendiri tidak kuat benar. Ada tiga kritik.
***
Asumsi Liddle tentang ‘individu’ bertolak dari ilusi.  Itu catatan saya yang pertama. Ia menyebut kemandirian seraya mengabaikan asal-usul kesadaran tentang ‘aku’ –  bahwa identifikasi diri sesungguhnya dibentuk oleh bahasa,  tata simbolik yang disusun dan dikukuhkan struktur sosial, hukum yang dijaga kekuasaan,  ‘superego’ atau apa yang disebut Lacan sebagai  nom-du-père, asma ‘Sang Bapak’ beserta larangan-larangannya.
Kemandirian sang aktor politik yang dikemukakan Liddle juga tidak memperhitungkan individu sebagai oknum yang terjerat alienasi sebagaimana dianalisa Hegel dan Marx: manusia yang dikendalikan pelbagai berhala yang dibangunnya sendiri, baik berupa benda, sistem, tradisi, atau keyakinan. Memang ada ‘kemauan bebas’, tetapi itu adalah momen ketika seseorang memilih bertindak; berada dalam-kemauan-bebas  bukanlah sifat dasarnya.
Kritik kedua: Machiavelli sendiri sebenarnya tidak sepenuhnya meletakkan ‘individu’, alias subyek, dalam posisi sentral. Risalahnya, yang dalam bahasa Latin disebut De prinsipatibus (bahasa Inggrisnya: principalities), lahir dari keprihatinan membangun keutuhan wilayah dengan sebuah negara yang kukuh. Machiavelli menginginkan   Italia yang  kuat, yang tidak terpecah dalam beberapa satuan politik; meskipun ia pernah tidak yakin, benarkah ia seorang patriot. Bila ia    membicarakan ‘Sang Raja’ senafas dengan ‘kerajaan’-nya atau Penguasa dengan la stato, itu karena ia hidup dengan sisa ingatan ke abad pertengahan, ketika kedua hal itu bertaut.
Orang pun terkecoh, tak melihat bahwa Il Principe justru berisi tuntutan yang harus dipenuhi Raja – termasuk bersedia  mengabaikan nilai-nilai moral pribadinya, demi tugas sebagai pemimpin. Individu — termasuk Sang Raja – hanya instrumen buat memperkukuh negara, lo stato. Ia terbelah sebagai subyek dan sebagai obyek.
Mungkin itu sebabnya, dalam Discorsi, Machiavelli tidak yakin sang Penguasa adalah sosok yang solid dalam merawat Republik. Judul bab LXIII kitab pertama: ‘Orang banyak (la multitudino) lebih arif dan lebih konstan ketimbang Raja’.  Dalam hal berhati-hati dan menjaga stabilitas, kata Machiavelli, il popolo (‘rakyat’) punya pertimbangan yang lebih baik. ‘Bukan tanpa alasan jika dikatakan, suara rakyat adalah suara Tuhan’, karena, katanya, ‘opini yang universal’ tampak menghasilkan hal-hal yang mengagumkan.
Tentu saja Machiavelli bukan seorang demokrat jenis abad modern. Tak tampak niatnya  menegaskan rakyat sebagai penyangga utama atau bahkan sumber kekuasaan Republik. Tapi ia tidak juga meletakkan posisi pemimpin sebagai  sumber tunggal kekuatan. Ada keprihatinan yang terus menerus: Machiavelli mengkhawatirkan  manusia (termasuk Raja) — yang baginya bukan makhluk yang ‘baik’ — akan bertindak destruktif bagi kelanjutan hidup negara. Virtù bisa mengendalikan itu, tapi juga hukum dan sistem untuk tak tergantung pada satu Pemimpin.
Dalam keprihatinan  itu Machiavelli melihat melihat kehidupan politik sebagai hubungan antagonistis — satu hal yang juga kemudian jadi premis teoritisi politik abad ke-20 seperti Schmitt, Laclau, dan Mouffle. Kekuasaan negara tumbuh dari konflik dan teror. Ketika ia menganjurkan agar sebuah Republik perlu merevitalisasi diri dengan ‘kembali ke dasar awal’-nya, Machiavelli mencontohkan prosedur – semacam ritual — yang dilakukan orang di Firenze tiap lima tahun sejak 1434-1494: melakukan  ripigliare lo stato, mengulang kembali penegakan negara, dengan membangkitkan rasa jeri dan takut (kepada musuh) seperti ketika di awal dulu.
Artinya, bagi Machiavelli, kekuasaan bukan datang dari desain di luar gerak sejarah. 
***
Mungkin itu sebabnya Machiavelli pernah dianggap sebagai ‘pendahulu pendekatan materialisme terhadap sejarah’. Dalam Political Thought from Machiavelli to Stalin: Revolutionary Machiavellism,  (Palgrave Macmillan: 2004), E.E. Rees mengutip kesimpulan itu dari ensiklopedia tentang negara dan hukum yang diterbitkan Uni Soviet di tahun 1925.
Tentu tidak tepat benar. Pandangan Marx tentang sejarah lebih optimistis. Bagi Machiavelli, watak manusia sama; dunia pada dasarnya tak berubah. Bagi Marx, dialektika akan melahirkan dunia baru tempat manusia merdeka.
Meski begitu, ada titik temu antara Machiavelli dan Marx:  keduanya tidak mengakui hadirnya apapun yang transendental. Tidak ada  rekayasa dari Langit atau ‘Aku’ di luar ruang & waktu. Subyek dan identitas — baik Raja dengan virtù‘-nya, il popolo (bangsa, rakyat) dengan hasrat kemerdekaannya, atau proletariat dengan aksi pembebasannya — justru  baru menegas dari antagonisme dan perjuangan politik. Pada awalnya bukanlah Ide.
Bedanya, Machiavelli — dari Italia abad ke-16 yang penuh guncangan politik — lebih peka akan ketidak-ajegan. Discorsi punya banyak contoh dari karya sejarawan lama Livio untuk menunjukkan bahwa dengan teror, tanpa desain, kekuasaan negara tumbuh dari keadaan suatu saat, suatu tempat. Perwujudannya beraneka-ragam sebagaimana beraneka-ragamnya kondisi  manusiawi.
Marx juga melihat kondisi manusiawi itu sebagai ‘basis’ dari ‘superstruktur’ yang berupa kekuasaan politik. Tetapi dari abad ke-19 yang bersemangat dengan kepastian ilmu (bukankah ia menawarkan ‘sosialisme yang ilmiah’?), Marx lebih yakin sejarah mengarah ke akhir yang tegas: masyarakat merdeka, tanpa pengisapan dan konflik.
Kita tentu tidak seyakin itu lagi. Zaman ini tak percaya lagi ilmu tak bisa salah. Selain itu, manusia telah mengalami krisis berkali-kali menghantam dunia di bawah kapitalisme, tetapi sampai awal abad ke-21 ini tidak tampak sosialisme mendekat. Wajar bila orang lebih cenderung kepada ketak-pastian Machiavelli.
Itu juga yang agaknya  mendorong filosof dan anggota setia Partai Komunis Prancis itu, Althusser, menulis sebuah risalah 100-halaman: Machiavel et Nous, yang terbit setelah ia meninggal dalam usia 72 pada tahun 1990. Mikko Lahtinen memaparkan dengan perseptif perkembangan pemikir Marxis terkemuka ini dalam Politics and Philosophy: Niccolo Machiavelli and Louis Althusser’s Aleatory Materialsm (Koninklijke Brill NV: 2009) — salah satu sumber saya untuk risalah ini.
Bagi Althusser, Machiavelli ‘pemikir materialis terbesar dalam sejarah’.  Namun ‘materialisme’-nya hampir seutuhnya dibentuk oleh praxis politik, hasil pergulatan dengan keadaan di suatu saat, pikiran yang mengikuti kaki yang bergerak terus di tanah. Ini sebuah materialisme yang bukan sistem filsafat, dan karena itu, berbeda dari Marxisme, tidak menjelaskan ke mana arahnya.
Althusser menyebutnya matérialisme aléatoire. Akar kata ini, alea (Latin), berarti dadu. Materialisme ini bertolak dari pengertian ´materi´ yang tak mendorong diri ke suatu bentuk, semacam dasar dunia kehidupan yang tidak mengarah ke satu sistem.  Bentuk dan sistem akan datang dari luar — tetapi datang seperti dadu yang dilontarkan ke ruang kosong (vuoto).  Serba-mungkin.
Di sana selalu berkecamuk antagonisme,  kompetisi kekuasaan untuk memberi bentuk –  terutama antara yang mau menguasai dan yang menampik dikuasai. Dan di ruang kosong yang bisa diisi pelbagai ‘mungkin’ itu, tidak ada satu kelompok pun yang pasti akan menang — atau bisa mengklaim hak untuk menang.
Tidak ada otoritas yang memutuskan.  Pintu terbuka. Sebuah gerak politik demokratis akan selalu mendesakkan diri. Bentuk kekuasaan yang lahir tidak akan bisa mengelakkannya, sebab ia hanya satu dari banyak kemungkinan. Termasuk ‘demokrasi liberal’ bukanlah penutup bagi kemungkinan-kemungkinan yang berbeda.
Dengan demikian ketegangan demokrasi bukanlah antara ‘individu’ dan ‘kolektifitas’, melainkan ketegangan menghadapi ‘mungkin’: ketegangan untuk mengisinya dengan berpegang kepada kebenaran yang diterima karena efektif (Machiavelli:  verità effettuale della cosa) tapi juga berpegang pada cita-cita tentang dunia yang tanpa penindasan. Seperti yang diinginkan Karl Marx.
Jakarta, 13 Desember 2011